Memanfaatkan Lahan Dengan Budidaya Ikan Dalam Kolam Beton
Assalamu’alaikum,
Lewat media ini Julak Ian mencoba untuk berbagi kesah yang
bisa menginsfirasi bagi bubuhan dan kakawalan guna menambah pengetahuan serta
bisa dicoba jika ada keinginan dan ada modalnya ditambah usaha yang
bersungguh-sungguh kada setengah-setengah dengan kata lain klo dicoba untuk
dijalankan harus dengan serius agar menghasilkan yang maksimal.
Berawal ketika Julak Ian baelang ke wadah kawal mantan
tehnician yang sudah ampih bagawi sekitar 16 tahun lalu dari suatu perusahaan
alat berat, kawal Julak Ian ini bengaran SUBIANTO kelahiran Loa Kulu Kutai
Kartanegara Kalimantan Timur yang wayah ini betinggal di Loa Kulu Kutai
Kartanegara Kalimantan Timur juwa. Dari hasil pembicaraan mengesahkan berbagai
kesah lawas dan yang terhanyar pendek
kesah sampailah pada pembicaraan kemasalah usaha apa yang terakhir dijalankan
kawal ini, ujarnya bisa ikam lihat sorang selain menjalankan usaha warungan
kelontong kebutuhan sehari-hari seperti bejualan baras, gula, garam, gas isi
ulang, dan lain-lain sampai makanan camilan kakanakan, inya juga maingu iwak
dalam kolam beton yang sudah dijalankan beberapa waktu yang lalu kurang labih 6
tahunan ujarnya.
Mendangar kesah ini Julak Ian jadi tertarik untuk mecari
ilmunya siapa tahu suatu saat bisa bermanfaat dan bisa dicoba untuk dilakukan
karena ujar Julak Subi ada beberapa manfaat yang bisa didapat jika hal ini
dilakukan diantaranya bisa menambah dan memenuhi sumber gizi keluarga bagi yang
mengkonsumsi sendiri, bisa menambah penghasilan keluarga jika dikembangkan
dengan serius bahkan bisa menjadi penghasilan utama jika dikelola dengan modal
yang terencana karena peluang pasar masih terbuka lebar ujar Julak Subi, selain
itu juwa bisa memanfaatkan lahan yang tidak produktif.
Latar belakang kenapa Julak Subi melakukan budidaya iwak
dalam kolam beton berawal karena pernah menggalami kegagalan dalam melakukan
budidaya iwak di sungai Mahakan dengan cara dipelihara dalam wadah keramba,
banyak faktor yang menyebabkan Julak Subi kada berminat lagi melakukan budidaya
cara tersebut salah satunya yang kada kawa diatasai kalau bayu Mahakam lagi
bagai bahasa urang kami di Samarinda. Setelah melalui beberapa pertimbangan dan
berbekal pengetahuan yang didapat lewat membaca dan betakun pada bubuhan yang
mengerti mengenai cara budidaya iwak akhirnya Julak Subi memutuskan untuk
beusaha budidaya iwak di dalam kolam beton. Ada beberapa pertimbangan kenapa
inya memilih cara ini dari pada pakai kolam terpal diantaranya belajar dari
pegalaman mainggu iwak yang di sungai dan ada modal yang bisa dimanfaatkan
serta bekinginan karas selain itu inya juwa optimis bisa berhasil, ditambah semangat
tidak ada kata “ Jangan menyerah - jangan menyerah “ kaya lagunnya D’Masiv-nya
Riyan mulailah inya usaha budidaya iwak di dalam kolam beton.
Ada beberapa jenis iwak yang sudah pernah dicoba untuk
dibudidayakan Julak Subi salah satunya inya membudidayakan iwak Lele
Sangkuriang dan sampai tulisan ini dibuat inya masih mainggu, ujarnya kelebihan
membudidayakan iwak lele jenis ini pertumbuhannya lakas dimana jika
dibudidayakan dengan tepat dan benar bisa panen dalam waktu kurang lebih 2,5
bulan dengan barat 6 sampai 7 ekor dalam 1 kilogram untuk konsumsi pasar,
sedangkan kekurangannya iwak lele jenis ini belum umum dipasaran yang berdampak
ke harga jual yang belum bisa bersaing dengan harga iwak sejenis. Inya juwa
mainggu jenis iwak yang lain seperti iwak papuyu dan iwak bawal.
Dari kesah Julak Subi ini ada beberapa hal yang bisa Julak
Ian sampaikan dan ada juga yang kada bisa disampaikan secara detail dikarenakan ketebatasan
pengetahuan dibidang budidaya iwak yang benar dan tepat, tapi setidaknya dengan
apa yang sudah dikesehkan dan dipraktekkan oleh Julak Subi setidaknya bisa
dijadikan referensi atau panduan jika kakawalan atau bubuhan yang berminat
mencoba untuk maingu iwak dalam kolam beton.
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan jika kakawalan
dan bubuhan ingin membudidayakan iwak dalam kolam beton diantaranya :
1. Bentuk Kolam
Beton.
Pada pembudidayaan iwak dikolam beton ini Julak Subi memilih
dengan bentuk bulat ukuran diameter 2 meter dengan ketinggian 1 meter. Kenapa
inya memilih bentuk bulat dengan pertimbangan pada bentuk bulat tidak menemukan
sudut dimana iwak seolah-olah tidak akan terhenti oleh suatu sudut karena jika
iwak yang diinggu termasuk yang jenis kanibal contohnya iwak lele bisa jadi
kanibal, selain itu dengan bentuk kolam bulat juwa bisa mencegah resiko
keretakan karena bentuk bulat tidak ada sudut.
Biaya yang diperlukan dalam pembuatan kolam beton bentuk
bulat dengan diameter 2 meter ketinggian 1 meter berkisar 3 jutaan rupiah setiap
kolamnya, tapi hal ini termasuk relatif biayanya tergantung biaya bahan dan
ongkos pembuatan kolam dimasing-masing daerah bebeda serta design yang
digunakan juga bisa mempengaruhi biaya yang diperlukan.
Bahan yang digunakan untuk pembuatan kolam beton milik Julak
Subi terdiri dari :
·
Semen
·
Pasir
·
Koral
·
Besi untuk rangka
·
Pipa paralon untuk pembuangan
disesuaikan dengan keinginan.
·
Bata merah sebagai pondarinya
Sistem air masuk menggunakan pipa yang dialirkan dari atas dan
pembuangan air pada kolam betonnya pada bagian dasar kolam dibuatkan cekungan
dengan sumbu poros dipasangkan pipa pembuangannya dan dialirkan keluar
[ilustrasi dari dasar kolam seperti bentuk wajan atau rinjing ujar urang
banjar].
Jika kakawal dan bubuhan mau memaksimalkan limbah pembuangan
dari kotoran atau sisa pakan dari pembudidayaan ini bisa dimanfaatkan jadi
pupuk tanaman.
Pada kolam benton Julak Subi ini tidak memerlukan sistem
sirkulasi air seperti sistem bentuk aquarium yang memerlukan pompa sirkulasi
tapi menggunakan sistem air stagnan dan pada air ditambahkan larutan probiotik agar
bisa terjaga baik dari segi suhu dan PH-nya.
Cara menetralisir kolam beton baru sebelum digunakan dimana
pada kolam semen terdapat residu yang berbahaya pada benih atau bibit iwak
sebelum digunakan perlu dinetralisir dengan cara memasukan air maksimal atau penuh
dan dikasih potongan-potongan batang pisang selama kurang lebih 1 minggu guna
menghilangkan kandungan residunya, jika dalam beberapa hari pada air kolam
terlihat dan terdapat kehidupan dengan ditandai adanya jentik-jentik atau hewan
kecil yang hidup hal ini menandakan kolam sudah bisa digunakan tidak mengandung
racun. Kemudian kolam dikosongkan airnya dan dinding pada bagian dalam
dibersihan dan digosok kembali dengan batang pohon pisang, terakhir dinding
bagian dalam dibilas air bersih. Selanjutnya diisi air persiapan untuk bibit
atau benih iwak yang isi airnya disesuaikan dengan jumlah benihnya. Sumber air
bisa dari air sumur atau air sungai, air sumur bor atau air dari PDAM tapi
untuk air dari PDAM perlu dicheck kandungannya apa saja serta dengan penanganan
khusus. Setelah air masuk dalam kolam beton kemudian dilakukan pengecekan PH-nya, sampai kandungan PH tercapai. Dimana
untuk pembudidayaan iwak idealnya PH berkisar 6 sampai 7. Biasanya untuk air
dari sumber sumur bor PH-nya dibawah 6 dengan pengukuran menggunakan PH meter
digital atau dengan kertas Lakmus yang bisa didapat pada apotik khusus menjual
kertas Lakmus.
Sedangkan kondisi kolam beton setelah digunakan atau setelah
panen tidak ada perlakuan khusus kecuali kolam dikosongkan dan dilakukan
pembersihan didindingnya dari lumut yang menempel dengan membiarkan kotoran
yang menempel sampai mengering dengan sendirinya akan mudah untuk dibersihkan
karena kotoran akan mengelupas sendiri.
Ujar Julak Subi untuk kolam beton bentuk bulat dengan ukuran
diameter 2 meter ketinggian 1 meter ini bisa menampung maksimum 2000 ekor iwak
lele.
2. Kuwalitas Air
Kolam.
Untuk jenis air yang digunakan oleh Julak Subi pada kolam
beton berasal dari air olahan yang umum disebut RWS [Red Water System] karena
jenis iwak yang dibudidayakan pada salah satu kolam betonnya adalah iwak lele
Sangkuriang. Dimana untuk menjaga PH dan suhu air pada kolam sangat menentukan
hasil dari budidaya tersebut, untuk lebih jelasnya jika kakawalan dan bubuhan
mainginkan info mengenai cara pengolahan air dengan sistem RWS bisa dilihat
pada internet yang blog sitenya membahas masalah tersebut.
Secara singkat mengenai air olahan RWS ini adalah
mengkondisikan nantinya air menjadi kearah berwarna merah dengan menggunakan
larutan pribiotik bisa dibeli di toko yang menjual alat dan bahan pertanian
atau di toko yang menjual bahan perikanan serta bisa juga dibeli lewat jual
beli online. Selain itu juga kita bisa mengolah sendiri larutan pribiotik
dengan refrensi lihat di internet.
Iwak lele tumbuh dan berkembang dengan baik jika menggunakan
sistem RWS ini dimana untuk kadar PH-nya berkisar antara 6 sampai dengan 7
sebagai penstabil PH air, karena kalau PH air dibawah 6 atau diatas 7 bisa
menyebabkan kematian pada iwak, untuk itu kalau kakawalan dan bubuhan ingin
memelihara dengan cara ini setidaknya setiap penambahan air atau beberapa hari
tergantung keadaan harus dilakukan pengecekan kadar PH-nya disamping itu juga
suhu dari air juga harus diperhatikan agar tetap stabil dalam suhu normal
kisaran antara 25 derajat celsius sampai 28 derajat celsius. Jika kadar PH air
dibawah dari 6 cara menaikannya dengan memberi kapur tanah atau Dolomite.
Untuk pemakaian air dengan sistem RWS ini cocok untuk
budidaya jenis iwak yang tidak bersisik seperti iwak Lele atau iwak Patin.
Masa pergantian air pada kolam beton saat pembudidayaan baik
dari lele anakan sampai lele dewasa yang siap dijual tidak perlu dilakukan
pergantian karena dengan sistem RWS salah satu kelebihannya adalah jarang
dilakukan pergantian air kecuali ada beberapa hal yang terjadi misalnya saat
sudah ada aroma air yang berbau menyengat karena faktor sisa kotoran iwak dan
sisa pakan yang tidak terurai atau terbuang yang mengakibatkan naiknya kadar
amoniak dan air berwarna kehitaman atau warna airnya sudah tidak kemerahan
lagi. Penggantian air ini pun tidak perlu semuanya yaitu maksimal 70 % dari
jumlah air sebelumnya, karena jika diganti semua berdampak pada iwak sendiri
beresiko iwak akan mengalami stres. Untuk itu pentingnya menjaga kuwalitas air
salah satunya dengan mengontrol kadar PH air.
Sebagai catatan kuwalitas air saat pegisian benih atau bibit
iwak harus air yang sudah jadi dan siap digunakan dengan cara melihat kalau
didalam air terdapat jentik-jentik, kutu air atau jasad renik seperti flangkton
serta terdapat mikroba dalam air tersebut.
3. Benih atau
Bibit Ikan.
Dalam pemilihan iwak yang akan dibudidayakan kakawalan dan
bubuhan harus lebih cermat memilih baik dari segi harga atau kuwalitas dari
bibit iwak itu sendiri, pada pembudidayaan di kolam beton milik Julak Subi inya
memelihara beberapa jenis iwak yaitu iwak lele Sangkuriang, iwak Papuyu dan
iwak Bawal sungai.
Dari pengalaman yang sudah dialami Julak Subi dalam memilih benih
jenis lele Sangkuriang yang baik
ditandai dengan bentuknya iwak proposional dimana antara kepala iwak dengan
awaknya rata tapi kalau kepalanya ganal dan awaknya tipis ini benih yang kada
baik, selain itu juwa gerakan iwak lincah dan gesit bakunyungnya serta tidak
cacat kadada koreng atau penyakit. Untuk ukuran benih atau bibit gasan
pengganalan idealnya antara 7 cm sampai 9 cm.
Perkiraan harga bibit atau benih lele Sangkuriang berkisar
300 rupiah sampai 350 rupiah per-ekor tergantung dimasing-masing daerah.
Penyakit yang biasa terjadi pada iwak lele Sangkurinag dikolam
beton adalah jamur yang biasa disebut whitespot atau terdapat bercak-bercak
putih pada awak iwak lele, pada muntung atau antena ujar urang sungutnya juwa, penyebabnya
karena kuwalitas air yang menurun salah satunya dari air hujan dimana kadar
asamnya cukup tinggi dan untuk mengatasinya dengan memberikan antibiotik berupa
bubuk PK bisa didapat ke Apotik.
Tanda-tanda iwak mengalami stres adalah iwak akan timbul ke permukaan
dengan kepala iwak muncul ke permukaan air dan nafsu makan iwak menurun. Penyebab
iwak stres bisa dikarenakan perubahan suhu air yang drastis, kekenyangan dan
karena kuwalitas air yang menurun. Cara mengatasinya untuk iwak yang
kekenyangan stop pemberian makan dan atur ulang jam pemberian makan dengan
disiplin waktu serta jumlah pemberian makan disesuaikan dengan bobot dan jumlah
iwaknya, sedangkan cara mengatasi kuwalitas air yang menurun dengan cara air
dikurangai kira-kira 50 % dan diganti air yang baru dan setelah itu ditaburi
cairan gula merah dengan komposisi 1 kg
gula merah dicairkan dengan 1 liter air dan pemberian cairan gula merah setelah
larutan gula merah dingin.
Tanda-tanda iwak berkuwalitas atau sehat terlihat dari
bentuk kepala dan awak rata tidak terlihat bentuk kepala lebih besar dari
awaknya, kulit mengkilat, gerakannya gesit atau lincah dan segar serta per- 2
minggunya bisa dilihat perkembangan dari bobot iwak itu sendiri, sekalian
disortir atau dipisahkan iwak yang bobotnya kurang dengan yang normal dengan
cara menggunakan alat sortir berupa wadah yang sudah diberi lubang sesuai
ukuran yang diinginkan.
Masa rawan iwak lele adalah saat penurunan benih atau bibit
iwak ke dalam kolam dimana mortalitas atau tingkat kematian saat memasukan
benih atau bibit iwak bisa tinggi jika salah, untuk itu perlakuannya
berhati-hati, caranya saat iwak akan dimasukan kedalam kolam perlu
diadaptasikan dulu dengan kondisi air kolam dengan air bawaan iwak yang dalam
kantong plastik, dibarkan dalam kolam tanpa membuka kantong agar suhu air yang
ada dalam kantong bisa menyesuaikan dengan suhu air kolam dengan kata lain
adanya transfer suhu. Sedangkan waktu yang diperlukan kurang lebih 15 menit,
kemudian kantong bibit dibuka dan oksigen dikeluarkan secara perlahan dan
biarkan benih atau bibit lele keluar dengan sendirinya dari kantong sampai
habis. Diamkan benih atau bibit iwak lele jangan diberi pakan selama 1 X 24
jam.
Catatan ujar Julak Subi kelebihan budidaya iwak lele
Sangkuriang yang dikembangkan oleh Balai Pemuliaan Ikan Suka Mandiri Bogor
adalah pengembangan budidaya iwak jenis ini masa panennya lebih cepat dimana
waktu dari pelepasan benih atau bibit iwak sampai waktu panen dengan ukuran 6
sampai 7 ekor didapat bobot sampai 1 kg diperlukan waktu kurang lebih 2,5
bulan. Sedangkan kekurangannya karena masyarakat kita belum familier atau umum
mengkonsumsi jenis iwak lele Sangkuriang ini yang berdampak dari harga jualnya
belum bisa bersaing dengan iwak jenis lain seperti iwak mas dan iwak nila.
4. Pakan Ikan.
Jenis pakan iwak lele berupa pelet yang digunakan Julak Subi
adalah dari merek Central Proteine Prima pakan type 781 dengan ukuran dari -1
sampai – 4, untuk ukuran pakan iwak anakan atau bibit dari yang kecil
ukuran -1 sampai iwak dewasa ukuran - 4 disesuaikan
dengan mulut iwak, kenapa inya memakai merek ini ujarnya kuwaitas pakan merek
ini cukup baik kandungan proteinnya yaitu berkisar 30 % kandungan ini
diperluakan oleh iwak lele agar perkembangannya baik, untuk lebih jelasnya jika
kita handak tahu kandungan apa aja yang ada pada pakan bisa lihat dibrosur dan
pada karungnya terdapat infonya .
Waktu ideal pemberian pakan pada iwak lele sebanyak 3 kali
sehari, yaitu pada pagi hari sekitar jam 9 pagi, pada siang menjelang sore jam
3 sore dan yang terakhir pada malam hari sekitar jam 9 malam.
Pemberian makan 3 % dari biomas, dimana kalau pemberian
makan iwak 3 kali sehari maka setiap
pemberian makan 1 % per sekali makan ujar Julak Subi untuk lebih jelas bisa
dilihat refensi yang ada di internet mengenai FCR atau food consumtion ratio.
5. Pemasaran.
Dari beberapa penjelasan yang sudah dikesahkan diatas yang
tidak kalah pentingnya ujar Julak Subi adalah hasil dari pembudidayan iwak ini
kapan sebaiknya dilakukan pemanenan dan dipasarkan, karena relatif harga
jualnya. Karena kalau kita pasarkan lewat perantara harga otomatis akan
bersaing kemungkinan dihargai lebih rendah, tapi kalau harga handak bagus bisa
langsung kita pasarkan ke konsumen pada rumah makan pecel lele atau warung
makan lamongan yang biasa mengolah menu makanan dari iwak lele.
Saran dan masukan dari Julak Subi jika harga pasar dari
penjualan kurang baik iwak lele bisa dijadikan olahan yang bisa menaikan nilai
ekonomisnya agar kerugian tidak terjadi, bisa dengan dijadikan Nuget Iwak Lele,
Sosis Iwak Lele, Pentol Iwak Lele, Kerupuk dari kulit Iwak Lele, dan bisa juga dagingnya
dijadikan kerupuk Iwak Lele dan Amplang Iwak Lele.
Hal-hal lain yang perlu diperhatikan selain beberapa fakor technis
yang sudah dijelaskan sebelumnya oleh Julak Sugi, tapi ada juwa faktor non
technis yang perlu dilakukan sebagai penunjang keberhasilan ini adalah :
·
Selalu berdoa memohon kepada Tuhan
guna diberi kelancaran dan kemudahan serta usaha yang dilakukan bisa berhasil.
· Ketekunan dari para kakawalan dan
bubuhan dalam menjalankan usaha dan jangan cepat putus asa.
· Kegagalan adalah keberhasilan yang
tertunda dan bisa dijadikan pelajar untuk mencapai suatu kesuksesan ujar Julak
Subi.
· Dan yang terakhir semuanya kita
kembalikan kepada yang memberikan kehidupan ini demikian penjelasan dari Julak
Subi.
Jika para kakawalan dan bubuhan masih kurang jelas atau
perlu info yang lebih lanjut silahkan menghubungi langsung Julak Subianto
dengan no mobail 081347748448 “ Pat-pat Gulipat Sampat Kada Sampat Kena Julak Subi
Jawab “ .
Dan apabila
hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku
adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon
kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan
hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran
[ QS. Al Baqarah – 186 ]
Wasalam,
Julak Ian










Tidak ada komentar:
Posting Komentar