Minggu, 02 Oktober 2016

Memanfaatkan Lahan Dengan Budidaya Ikan Dalam Kolam Beton



Memanfaatkan Lahan Dengan Budidaya Ikan Dalam Kolam Beton

Assalamu’alaikum,

Lewat media ini Julak Ian mencoba untuk berbagi kesah yang bisa menginsfirasi bagi bubuhan dan kakawalan guna menambah pengetahuan serta bisa dicoba jika ada keinginan dan ada modalnya ditambah usaha yang bersungguh-sungguh kada setengah-setengah dengan kata lain klo dicoba untuk dijalankan harus dengan serius agar menghasilkan yang maksimal.

Berawal ketika Julak Ian baelang ke wadah kawal mantan tehnician yang sudah ampih bagawi sekitar 16 tahun lalu dari suatu perusahaan alat berat, kawal Julak Ian ini bengaran SUBIANTO kelahiran Loa Kulu Kutai Kartanegara Kalimantan Timur yang wayah ini betinggal di Loa Kulu Kutai Kartanegara Kalimantan Timur juwa. Dari hasil pembicaraan mengesahkan berbagai kesah lawas dan yang terhanyar  pendek kesah sampailah pada pembicaraan kemasalah usaha apa yang terakhir dijalankan kawal ini, ujarnya bisa ikam lihat sorang selain menjalankan usaha warungan kelontong kebutuhan sehari-hari seperti bejualan baras, gula, garam, gas isi ulang, dan lain-lain sampai makanan camilan kakanakan, inya juga maingu iwak dalam kolam beton yang sudah dijalankan beberapa waktu yang lalu kurang labih 6 tahunan ujarnya.

Mendangar kesah ini Julak Ian jadi tertarik untuk mecari ilmunya siapa tahu suatu saat bisa bermanfaat dan bisa dicoba untuk dilakukan karena ujar Julak Subi ada beberapa manfaat yang bisa didapat jika hal ini dilakukan diantaranya bisa menambah dan memenuhi sumber gizi keluarga bagi yang mengkonsumsi sendiri, bisa menambah penghasilan keluarga jika dikembangkan dengan serius bahkan bisa menjadi penghasilan utama jika dikelola dengan modal yang terencana karena peluang pasar masih terbuka lebar ujar Julak Subi, selain itu juwa bisa memanfaatkan lahan yang tidak produktif.
         
Latar belakang kenapa Julak Subi melakukan budidaya iwak dalam kolam beton berawal karena pernah menggalami kegagalan dalam melakukan budidaya iwak di sungai Mahakan dengan cara dipelihara dalam wadah keramba, banyak faktor yang menyebabkan Julak Subi kada berminat lagi melakukan budidaya cara tersebut salah satunya yang kada kawa diatasai kalau bayu Mahakam lagi bagai bahasa urang kami di Samarinda. Setelah melalui beberapa pertimbangan dan berbekal pengetahuan yang didapat lewat membaca dan betakun pada bubuhan yang mengerti mengenai cara budidaya iwak akhirnya Julak Subi memutuskan untuk beusaha budidaya iwak di dalam kolam beton. Ada beberapa pertimbangan kenapa inya memilih cara ini dari pada pakai kolam terpal diantaranya belajar dari pegalaman mainggu iwak yang di sungai dan ada modal yang bisa dimanfaatkan serta bekinginan karas selain itu inya juwa optimis bisa berhasil, ditambah semangat tidak ada kata “ Jangan menyerah - jangan menyerah “ kaya lagunnya D’Masiv-nya Riyan mulailah inya usaha budidaya iwak di dalam kolam beton.

Ada beberapa jenis iwak yang sudah pernah dicoba untuk dibudidayakan Julak Subi salah satunya inya membudidayakan iwak Lele Sangkuriang dan sampai tulisan ini dibuat inya masih mainggu, ujarnya kelebihan membudidayakan iwak lele jenis ini pertumbuhannya lakas dimana jika dibudidayakan dengan tepat dan benar bisa panen dalam waktu kurang lebih 2,5 bulan dengan barat 6 sampai 7 ekor dalam 1 kilogram untuk konsumsi pasar, sedangkan kekurangannya iwak lele jenis ini belum umum dipasaran yang berdampak ke harga jual yang belum bisa bersaing dengan harga iwak sejenis. Inya juwa mainggu jenis iwak yang lain seperti iwak papuyu dan iwak bawal.    


Dari kesah Julak Subi ini ada beberapa hal yang bisa Julak Ian sampaikan dan ada juga yang kada bisa disampaikan secara detail dikarenakan ketebatasan pengetahuan dibidang budidaya iwak yang benar dan tepat, tapi setidaknya dengan apa yang sudah dikesehkan dan dipraktekkan oleh Julak Subi setidaknya bisa dijadikan referensi atau panduan jika kakawalan atau bubuhan yang berminat mencoba untuk maingu iwak dalam kolam beton.

Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan jika kakawalan dan bubuhan ingin membudidayakan iwak dalam kolam beton diantaranya :

1.    Bentuk Kolam Beton.

Pada pembudidayaan iwak dikolam beton ini Julak Subi memilih dengan bentuk bulat ukuran diameter 2 meter dengan ketinggian 1 meter. Kenapa inya memilih bentuk bulat dengan pertimbangan pada bentuk bulat tidak menemukan sudut dimana iwak seolah-olah tidak akan terhenti oleh suatu sudut karena jika iwak yang diinggu termasuk yang jenis kanibal contohnya iwak lele bisa jadi kanibal, selain itu dengan bentuk kolam bulat juwa bisa mencegah resiko keretakan karena bentuk bulat tidak ada sudut.


Biaya yang diperlukan dalam pembuatan kolam beton bentuk bulat dengan diameter 2 meter ketinggian 1 meter berkisar 3 jutaan rupiah setiap kolamnya, tapi hal ini termasuk relatif biayanya tergantung biaya bahan dan ongkos pembuatan kolam dimasing-masing daerah bebeda serta design yang digunakan juga bisa mempengaruhi biaya yang diperlukan.

Bahan yang digunakan untuk pembuatan kolam beton milik Julak Subi terdiri dari :
·         Semen
·         Pasir
·         Koral
·         Besi untuk rangka
·         Pipa paralon untuk pembuangan disesuaikan dengan keinginan.
·         Bata merah sebagai pondarinya

Sistem air masuk menggunakan pipa yang dialirkan dari atas dan pembuangan air pada kolam betonnya pada bagian dasar kolam dibuatkan cekungan dengan sumbu poros dipasangkan pipa pembuangannya dan dialirkan keluar [ilustrasi dari dasar kolam seperti bentuk wajan atau rinjing ujar urang banjar].

  
Jika kakawal dan bubuhan mau memaksimalkan limbah pembuangan dari kotoran atau sisa pakan dari pembudidayaan ini bisa dimanfaatkan jadi pupuk tanaman.

Pada kolam benton Julak Subi ini tidak memerlukan sistem sirkulasi air seperti sistem bentuk aquarium yang memerlukan pompa sirkulasi tapi menggunakan sistem air stagnan dan pada air ditambahkan larutan probiotik agar bisa terjaga baik dari segi suhu dan PH-nya.

  
Cara menetralisir kolam beton baru sebelum digunakan dimana pada kolam semen terdapat residu yang berbahaya pada benih atau bibit iwak sebelum digunakan perlu dinetralisir dengan cara memasukan air maksimal atau penuh dan dikasih potongan-potongan batang pisang selama kurang lebih 1 minggu guna menghilangkan kandungan residunya, jika dalam beberapa hari pada air kolam terlihat dan terdapat kehidupan dengan ditandai adanya jentik-jentik atau hewan kecil yang hidup hal ini menandakan kolam sudah bisa digunakan tidak mengandung racun. Kemudian kolam dikosongkan airnya dan dinding pada bagian dalam dibersihan dan digosok kembali dengan batang pohon pisang, terakhir dinding bagian dalam dibilas air bersih. Selanjutnya diisi air persiapan untuk bibit atau benih iwak yang isi airnya disesuaikan dengan jumlah benihnya. Sumber air bisa dari air sumur atau air sungai, air sumur bor atau air dari PDAM tapi untuk air dari PDAM perlu dicheck kandungannya apa saja serta dengan penanganan khusus. Setelah air masuk dalam kolam beton kemudian dilakukan pengecekan  PH-nya, sampai kandungan PH tercapai. Dimana untuk pembudidayaan iwak idealnya PH berkisar 6 sampai 7. Biasanya untuk air dari sumber sumur bor PH-nya dibawah 6 dengan pengukuran menggunakan PH meter digital atau dengan kertas Lakmus yang bisa didapat pada apotik khusus menjual kertas Lakmus.



Sedangkan kondisi kolam beton setelah digunakan atau setelah panen tidak ada perlakuan khusus kecuali kolam dikosongkan dan dilakukan pembersihan didindingnya dari lumut yang menempel dengan membiarkan kotoran yang menempel sampai mengering dengan sendirinya akan mudah untuk dibersihkan karena kotoran akan mengelupas sendiri.

Ujar Julak Subi untuk kolam beton bentuk bulat dengan ukuran diameter 2 meter ketinggian 1 meter ini bisa menampung maksimum 2000 ekor iwak lele.


2.    Kuwalitas Air Kolam.


Untuk jenis air yang digunakan oleh Julak Subi pada kolam beton berasal dari air olahan yang umum disebut RWS [Red Water System] karena jenis iwak yang dibudidayakan pada salah satu kolam betonnya adalah iwak lele Sangkuriang. Dimana untuk menjaga PH dan suhu air pada kolam sangat menentukan hasil dari budidaya tersebut, untuk lebih jelasnya jika kakawalan dan bubuhan mainginkan info mengenai cara pengolahan air dengan sistem RWS bisa dilihat pada internet yang blog sitenya membahas masalah tersebut.

Secara singkat mengenai air olahan RWS ini adalah mengkondisikan nantinya air menjadi kearah berwarna merah dengan menggunakan larutan pribiotik bisa dibeli di toko yang menjual alat dan bahan pertanian atau di toko yang menjual bahan perikanan serta bisa juga dibeli lewat jual beli online. Selain itu juga kita bisa mengolah sendiri larutan pribiotik dengan refrensi lihat di internet.   


Iwak lele tumbuh dan berkembang dengan baik jika menggunakan sistem RWS ini dimana untuk kadar PH-nya berkisar antara 6 sampai dengan 7 sebagai penstabil PH air, karena kalau PH air dibawah 6 atau diatas 7 bisa menyebabkan kematian pada iwak, untuk itu kalau kakawalan dan bubuhan ingin memelihara dengan cara ini setidaknya setiap penambahan air atau beberapa hari tergantung keadaan harus dilakukan pengecekan kadar PH-nya disamping itu juga suhu dari air juga harus diperhatikan agar tetap stabil dalam suhu normal kisaran antara 25 derajat celsius sampai 28 derajat celsius. Jika kadar PH air dibawah dari 6 cara menaikannya dengan memberi kapur tanah atau Dolomite.


  
Untuk pemakaian air dengan sistem RWS ini cocok untuk budidaya jenis iwak yang tidak bersisik seperti iwak Lele atau iwak Patin.

Masa pergantian air pada kolam beton saat pembudidayaan baik dari lele anakan sampai lele dewasa yang siap dijual tidak perlu dilakukan pergantian karena dengan sistem RWS salah satu kelebihannya adalah jarang dilakukan pergantian air kecuali ada beberapa hal yang terjadi misalnya saat sudah ada aroma air yang berbau menyengat karena faktor sisa kotoran iwak dan sisa pakan yang tidak terurai atau terbuang yang mengakibatkan naiknya kadar amoniak dan air berwarna kehitaman atau warna airnya sudah tidak kemerahan lagi. Penggantian air ini pun tidak perlu semuanya yaitu maksimal 70 % dari jumlah air sebelumnya, karena jika diganti semua berdampak pada iwak sendiri beresiko iwak akan mengalami stres. Untuk itu pentingnya menjaga kuwalitas air salah satunya dengan mengontrol kadar PH air.

Sebagai catatan kuwalitas air saat pegisian benih atau bibit iwak harus air yang sudah jadi dan siap digunakan dengan cara melihat kalau didalam air terdapat jentik-jentik, kutu air atau jasad renik seperti flangkton serta terdapat mikroba dalam air tersebut.


3.    Benih atau Bibit Ikan.


Dalam pemilihan iwak yang akan dibudidayakan kakawalan dan bubuhan harus lebih cermat memilih baik dari segi harga atau kuwalitas dari bibit iwak itu sendiri, pada pembudidayaan di kolam beton milik Julak Subi inya memelihara beberapa jenis iwak yaitu iwak lele Sangkuriang, iwak Papuyu dan iwak Bawal sungai.

Dari pengalaman yang sudah dialami Julak Subi dalam memilih benih jenis lele Sangkuriang  yang baik ditandai dengan bentuknya iwak proposional dimana antara kepala iwak dengan awaknya rata tapi kalau kepalanya ganal dan awaknya tipis ini benih yang kada baik, selain itu juwa gerakan iwak lincah dan gesit bakunyungnya serta tidak cacat kadada koreng atau penyakit. Untuk ukuran benih atau bibit gasan pengganalan idealnya antara 7 cm sampai 9 cm.

Perkiraan harga bibit atau benih lele Sangkuriang berkisar 300 rupiah sampai 350 rupiah per-ekor tergantung dimasing-masing daerah.



Penyakit yang biasa terjadi pada iwak lele Sangkurinag dikolam beton adalah jamur yang biasa disebut whitespot atau terdapat bercak-bercak putih pada awak iwak lele, pada muntung atau antena ujar urang sungutnya juwa, penyebabnya karena kuwalitas air yang menurun salah satunya dari air hujan dimana kadar asamnya cukup tinggi dan untuk mengatasinya dengan memberikan antibiotik berupa bubuk PK bisa didapat ke Apotik.

Tanda-tanda iwak mengalami stres adalah iwak akan timbul ke permukaan dengan kepala iwak muncul ke permukaan air dan nafsu makan iwak menurun. Penyebab iwak stres bisa dikarenakan perubahan suhu air yang drastis, kekenyangan dan karena kuwalitas air yang menurun. Cara mengatasinya untuk iwak yang kekenyangan stop pemberian makan dan atur ulang jam pemberian makan dengan disiplin waktu serta jumlah pemberian makan disesuaikan dengan bobot dan jumlah iwaknya, sedangkan cara mengatasi kuwalitas air yang menurun dengan cara air dikurangai kira-kira 50 % dan diganti air yang baru dan setelah itu ditaburi cairan gula merah dengan komposisi  1 kg gula merah dicairkan dengan 1 liter air dan pemberian cairan gula merah setelah larutan gula merah dingin. 

Tanda-tanda iwak berkuwalitas atau sehat terlihat dari bentuk kepala dan awak rata tidak terlihat bentuk kepala lebih besar dari awaknya, kulit mengkilat, gerakannya gesit atau lincah dan segar serta per- 2 minggunya bisa dilihat perkembangan dari bobot iwak itu sendiri, sekalian disortir atau dipisahkan iwak yang bobotnya kurang dengan yang normal dengan cara menggunakan alat sortir berupa wadah yang sudah diberi lubang sesuai ukuran yang diinginkan.




Masa rawan iwak lele adalah saat penurunan benih atau bibit iwak ke dalam kolam dimana mortalitas atau tingkat kematian saat memasukan benih atau bibit iwak bisa tinggi jika salah, untuk itu perlakuannya berhati-hati, caranya saat iwak akan dimasukan kedalam kolam perlu diadaptasikan dulu dengan kondisi air kolam dengan air bawaan iwak yang dalam kantong plastik, dibarkan dalam kolam tanpa membuka kantong agar suhu air yang ada dalam kantong bisa menyesuaikan dengan suhu air kolam dengan kata lain adanya transfer suhu. Sedangkan waktu yang diperlukan kurang lebih 15 menit, kemudian kantong bibit dibuka dan oksigen dikeluarkan secara perlahan dan biarkan benih atau bibit lele keluar dengan sendirinya dari kantong sampai habis. Diamkan benih atau bibit iwak lele jangan diberi pakan selama 1 X 24 jam.
Catatan ujar Julak Subi kelebihan budidaya iwak lele Sangkuriang yang dikembangkan oleh Balai Pemuliaan Ikan Suka Mandiri Bogor adalah pengembangan budidaya iwak jenis ini masa panennya lebih cepat dimana waktu dari pelepasan benih atau bibit iwak sampai waktu panen dengan ukuran 6 sampai 7 ekor didapat bobot sampai 1 kg diperlukan waktu kurang lebih 2,5 bulan. Sedangkan kekurangannya karena masyarakat kita belum familier atau umum mengkonsumsi jenis iwak lele Sangkuriang ini yang berdampak dari harga jualnya belum bisa bersaing dengan iwak jenis lain seperti iwak mas dan iwak nila. 


4.    Pakan Ikan.


Jenis pakan iwak lele berupa pelet yang digunakan Julak Subi adalah dari merek Central Proteine Prima pakan type 781 dengan ukuran dari -1 sampai – 4, untuk ukuran pakan iwak anakan atau bibit dari yang kecil ukuran  -1  sampai iwak dewasa ukuran - 4 disesuaikan dengan mulut iwak, kenapa inya memakai merek ini ujarnya kuwaitas pakan merek ini cukup baik kandungan proteinnya yaitu berkisar 30 % kandungan ini diperluakan oleh iwak lele agar perkembangannya baik, untuk lebih jelasnya jika kita handak tahu kandungan apa aja yang ada pada pakan bisa lihat dibrosur dan pada karungnya terdapat infonya .

Waktu ideal pemberian pakan pada iwak lele sebanyak 3 kali sehari, yaitu pada pagi hari sekitar jam 9 pagi, pada siang menjelang sore jam 3 sore dan yang terakhir pada malam hari sekitar jam  9 malam.

Pemberian makan 3 % dari biomas, dimana kalau pemberian makan iwak  3 kali sehari maka setiap pemberian makan 1 % per sekali makan ujar Julak Subi untuk lebih jelas bisa dilihat refensi yang ada di internet mengenai FCR atau food consumtion ratio.


5.    Pemasaran.


Dari beberapa penjelasan yang sudah dikesahkan diatas yang tidak kalah pentingnya ujar Julak Subi adalah hasil dari pembudidayan iwak ini kapan sebaiknya dilakukan pemanenan dan dipasarkan, karena relatif harga jualnya. Karena kalau kita pasarkan lewat perantara harga otomatis akan bersaing kemungkinan dihargai lebih rendah, tapi kalau harga handak bagus bisa langsung kita pasarkan ke konsumen pada rumah makan pecel lele atau warung makan lamongan yang biasa mengolah menu makanan dari iwak lele.

Saran dan masukan dari Julak Subi jika harga pasar dari penjualan kurang baik iwak lele bisa dijadikan olahan yang bisa menaikan nilai ekonomisnya agar kerugian tidak terjadi, bisa dengan dijadikan Nuget Iwak Lele, Sosis Iwak Lele, Pentol Iwak Lele, Kerupuk dari kulit Iwak Lele, dan bisa juga dagingnya dijadikan kerupuk Iwak Lele dan Amplang Iwak Lele.



Hal-hal lain yang perlu diperhatikan selain beberapa fakor technis yang sudah dijelaskan sebelumnya oleh Julak Sugi, tapi ada juwa faktor non technis yang perlu dilakukan sebagai penunjang keberhasilan ini adalah :
·         Selalu berdoa memohon kepada Tuhan guna diberi kelancaran dan kemudahan serta usaha yang dilakukan bisa berhasil.
·     Ketekunan dari para kakawalan dan bubuhan dalam menjalankan usaha dan jangan cepat putus asa.
·      Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda dan bisa dijadikan pelajar untuk mencapai suatu kesuksesan ujar Julak Subi.
·   Dan yang terakhir semuanya kita kembalikan kepada yang memberikan kehidupan ini demikian penjelasan dari Julak Subi.

Jika para kakawalan dan bubuhan masih kurang jelas atau perlu info yang lebih lanjut silahkan menghubungi langsung Julak Subianto dengan no mobail 081347748448 “ Pat-pat Gulipat Sampat Kada Sampat Kena Julak Subi Jawab “ .

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran 
[ QS. Al Baqarah – 186 ]


Wasalam,


Julak Ian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar